9:09 AM | Author: Alicia Komputer

Seputar Wacana Pondok Cabang Gontor di Sulit Air

BERTEMU DR KH ABDULLAH SYUKRI ZARKASYI, PIMPINAN PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR

Keinginan untuk mendirikan pondok pesantren cabang Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Sulit Air tak terbendung lagi. 37 orang terdiri dari pengurus DDR dan tokoh-tokoh masyarakat Sulit Air menemui Pimpinan PMDG, DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi, di Ruang Matahari Hotel Marcopolo, Jakarta pada tanggal 4 Maret 2008, dari pukul 14.00 – 17.30. Tujuannya ialah untuk membahas peluang mendirikan pondok cabang Gontor di Sulit Air secara lebih intensif, melanjutkan dua pertemuan terdahulu di hotel yang sama dan di kediaman Drs. H. Rainal Rais Dt. Rajo Sati Nan Mulie di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. DDR telah berulangkali menyampaikan keinginan ini kepadanya secara informal sebelum pertemuan-pertemuan resmi dilakukan.

Dr. HM. Amin Nurdin, MA selaku Ketua Umum DDR menyampaikan, pendirian pondok cabang PMDG di Sulit Air bertujuan untuk membangkitkan gerakan dakwah dan pendidikan sesuai visi dan misi DDR sebagai gerakan dakwah. Seperti dikatakan Rainal Rais, Sulit Air tepat menjadi lokasi karena strategis secara geografis lantaran dapat dimasuki melalui 6 penjuru dari wilayah Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Selain itu, Sulit Air memiliki semangat pergerakan ditandai dengan perjuangan gerakan Padri di Minangkabau yang dimulai di nagari ini. Ir. H. Nibras Salim Dt. Polong Kayo menambahkan, PMDG telah lama menjadi alternatif pilihan terbaik para orangtua Sulit Air dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka. Di antara ribuan alumni PMDG, sekitar 250 orang adalah putra Sulit Air. Keberadaan Gontor di Sulit Air ia yakini akan mengubah nagari ini menjadi nagari yang religius dan produsen ulama-intelektual dan intektual-ulama di Sumatra Barat. Untuk meyakinkan Pimpinan PMDG, H. Syaifullah Sirin Dt. Rajo Mangkuto selaku Ketua Badan Pembangunan yang dibentuk DDR optimis pondok cabang Gontor akan berdiri di Sulit Air karena seluruh lapisan dan komponen masyarakatnya telah menyatakan dukungan dan bersedia bekerja keras sekalipun sampai mengucurkan keringat darah.

Keinginan dengan semangat tinggi di atas ditanggapi DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi dengan suka cita sebagai sebuah penghormatan karena selaras dengan cita-citanya mendirikan ‘Seribu Gontor, di Indonesia. Karena itu, tempat bukan hal prinsip karena bisa di mana saja. Keinginan mendirikan pondok cabang Gontor di Sumatra Barat tidak datang dari warga Sulit Air saja. Tokoh Minangkabau terkemuka, Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Salaiman, pernah menyampaikan keinginan yang sama kepadanya. Untuk menguatkan keyakinannya, H. Azmi Anwar Dt. Tumenggung selaku Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sulit Air menambahkan, bahwa dukungan juga datang dari pemangku adat karena pewakafan tanah wakaf jelas dan sudah sesuai prosedur adat. Bagaimanapun, yang terpenting baginya adalah keikhlasan, terutama dari wakif yang mewakafkan tanahnya karena ini akan menjadi indikator penentu nyetrum tidaknya lokasi yang disediakan. Kiikhlasan hati pula yang ia angggap kunci untuk memudahkan usaha termasuk dalam mengatasi berbagai kesulitan, termasuk dana. H. Syaifullah Sirin Dt. Rajo Mangkuto optimis dana dari warga Sulit Air akan terkumpul maksimal sekitar 1,5 milyar rupiah, Kekurangannya akan ditutupi dari sumber-sumber lain di pemerintahan pusat dan daerah maupun dari dana luar negeri. Menyikapi hal ini, DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi yakin Allah akan memberi jalan keluar asalkan semua pihak berjuang dengan ikhlas. Pimpinan PMDG berjanji tidak akan tinggal diam. Jika pondok cabang berdiri di Sulit Air, Pimpinan PMDG juga berjanji akan melakukan pembinaan terhadap masyarakat Sulit Air sejauh diperlukan seperti dilakukan terhadap masyarakat sekitar Gontor. Kepastian ini disampaikan DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi menanggapi harapan Hj. Yenni Huriani Yahya, MSi tentang peran serta pondok melalui kegiatan dakwah dan pengajian dalam koridor pembangunan masyarakat, atau popular dengan sebutan ‘community development’ (CD).

Pengalaman Pimpinan PMDG mendirikan pondok cabang dalam mewujudkan cita-cita ‘Seribu Gontor’ cukup beragam. Pondok cabang di Aceh dibangun di atas tanah yang dibeli sendiri oleh PMDG, kemudian diwakafkan ke Badan Wakaf Gontor, sementara pondok cabang di Lampung dibangun di atas tanah wakaf warga setempat. Hj. Yulmatri Rainal beranggapan suka duka mendirikan pondok cabang hendaknya menjadi pelajaran berharga agar DDR tetap komitmen dengan cita-cita mendirikan pondok cabang di Sulit Air.

Dalam pertemuan tersebut, DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi turut menjelaskan institusi pendidikan PMDG, perkembangannya dan suka duka yang dialami selama 7 dekade sejak berdiri sampai memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah pada tahun 2000. Selain PMDG di Desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, kini sudah berdiri 13 pondok cabang dengan 6.326 santri di seluruh Indonesia dengan guru-guru berkualitas sama dengan guru-guru di PMDG. Alumni terbaik yang keluar setiap tahun dari PMDG akan disalurkan ke pondok-pondok cabang. Menjawab pertanyaan Drs. H. Hamdullah Salim tentang minat santri belajar di PMDG, DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi menjelaskan, bahwa tidak kurang dari 2400 calon santri ingin belajar di PMDG setiap tahun. Tetapi, hanya sekitar 1200 orang saja yang diterima. Selain pondok cabang, terdapat pula pondok alumni yang dibangun oleh alumni, dan pesantren yang dikelola oleh yayasan menggunakan kurikulum dan sistem pendidikan Gontor. Seperti disampaikan M. Emnis Anwar, DDR dan warga Sulit Air tetap pada pilihan mendirikan podok cabang di bawah pengelolaan langsung PMDG. Dalam kaitan ini, DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi bersama Pimpinan PMDG yang lain berjanji akan datang ke Sulit Air secepatnya untuk melihat lokasi. Waktunya akan ia beri tahukan kemudian (M. ‘Azzam Manan & Agus Saputra)

KUNJUNGAN KE PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR

Di antara putusan rapat DDR tanggal 18 Maret membahas hasil pertemuan dengan DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi di Hotel Marcopolo tanggal 4 Maret 2008 adalah kunjungan ke Pondok Modern Darussalam Gontor PMDG). Ini penting agar gagasan pendirian pondok cabang di Sulit Air direspon oleh seluruh Pimpinan PMDG.

Rabu sore, 27 Maret 2008, 16 orang peserta berangkat dari Stasiun Gambir dengan Keretapi Bima menuju Madiun. Mereka adalah H. Syaifullah Sirin Dt. Rajo Mangkuto selaku pimpinan rombongan, HM. Amin Nurdin, HM. Emnis Anwar, H. Rainal Rais Dt. Rajo Sati Nan Mulie, Hj. Yulmatri Rainal, H. Ali Ridwan Liun, H. Nazlir Ahmat, Roymon Rais, H. Syahril Syamsuddin, H. J. Raspalito Temanggung Alwie, Agus Saputra, …………….. Kunjungan menemui Pimpinan PMDG dianggap penting sebagai strategi untuk memudahkan penerimaan gagasan ini oleh Badan Wakaf Gontor. Karena itu, waktu yang pendek memaksa pimpinan rombongan mengambil keputusan tepat namun belum tentu mudah, naik ojek ke Stasiun Gambir agar tidak ketinggalan kereta. Setiba di Stasiun Madiun Kamis pagi pukul 04.15, rombongan langsung menuju Gontor dengan bus bersama santri yang menjemput. Mereka sampai di PMDG pukul 05.42 setelah mampir dulu menunaikan salat Shubuh di Masjid Istiqamah, Dolopo. Sesampai di tempat tujuan, mereka beristirahat dan sarapan pagi di wisma yang telah disediakan.

Pada pukul 09.00, mereka dibawa ke sekretariat pimpinan dengan bus untuk bertemu pimpinan pondok yang terdiri dari DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan A. Sahal, dan KH Akrim Mariyat. Meskipun keputusan berada di Badan Wakaf Gontor, ketiga pimpinan PMDG tersebut secara prinsip bersedia membangun pondok cabang di Sumatera Barat asalkan pewakaf ikhlas mewakafkan tanahnya, bangunan dan fasilitas lainnya bagi menampung sekurang-kurangnya 150 santri. Semua peserta merasakan penerimaan Pimpinan PMDG sebagai tuan rumah sangat istimewa. Pimpinan pondok seakan-akan hendak menunjukkan contoh ideal menghormati tamu seperti seruan Rasulullah SAW dalam hadits yang artinya: “barang siapa beriman dengan Allah dan hari kemuidan, maka hendaklah ia menghormati tamunya”.

Usai pertemuan, mereka diajak dengan 3 mobil mengelilingi komplek Gontor yang sejatinya menyatu dengan rumah warga. Salah satu mobil dikemudikan sendiri oleh DR KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Di PMDG 1 dan 2 Putra, mereka turut melihat asrama dan kamar-kamar santri, dapur, ruang makan, ruang kelas, ruang auditorium, laboratorium bahasa, koperasi, Radio Gontor, dan lain sebagainya. Gedung-gedung di pondok mempunyai nama sendiri seperti Gedung Al-Azhar. Ada juga gedung diberi nama sesuai nama negara donor, seperti Gedung Saudi Arabia.

Pukul 10.50, rombongan sudah berada di aula untuk mengikuti presentasi menggunakan slide projector tentang sistem pendidikan dan pengajaran di PMDG oleh DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Akrim Mariyat. Orientasi sistem pendidikan dan pengajaran pondok bukan sekadar menyiapkan santri dapat bekerja, melainkan juga dapat terjun dan mengabdi kepada masyarakat melalui prinsip panca jiwa, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan jiwa bebas. DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi juga menjelaskan struktur organisasi PMDG mulai dari badan wakaf, pimpinan pondok sampai ke KMI, ISID, IKPM (?), serta pengalamannya mendapatkan dana dari luar hingga mencapai 10 milyar rupiah. Keberhasilan ini terjadi karena ia berbuat berdasarkan semangat ikhlas berkorban. Kesempatan itu digunakan pula untuk membahas rencana kunjungan pimpinan PMDG ke Sulit Air akhir Mei 2008 untuk melihat lokasi calon pondok cabang.

Usai presentasi pukul 13.00, rombongan kembali ke wisma untuk makan siang dan beristirahat. Ketika acara makan malam, muncul inisiatif menggalang dana untuk membantu pembangunan PMDG 1 Putra. Malam itu, mereka berhasil menghimpun dana berjumlah Rp. 11.800.000 (sebelas juta delapan ratus ribu rupiah). Pukul 20.30, mereka berbincang santai dengan DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Ketika itu, ia menegaskan kembali pentingnya keikhlasan, kerja keras, inisiatif, kemauan dan keberanain dalam berbuat, serta jaringan kerja. Karena itu, ia mengajak rombongan agar tidak memperdulikan orang yang banyak ngomong namun tidak mau berbuat. Ia juga menekankan pentingnya sikap amanah dan transparansi untuk membangun kepercayaan dan menghindari fitnah. Bincang-bincang dengan DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi disudahi dengan penyerahan bantaun berjumlah RP. 11.700.000 (sebelas juta tujuh ratu ribu rupiah) untuk PMDG 1 Putra. Sisanya mereka berikan kepada santri yang telah membantu selama dua hari. Malam itu juga, empat orang anggota langsung pulang ke Jakarta.

Jumat pagi, 28 Maret 2008, 14 anggota rombongan yang tersisa menemui KH Hasan A. Sahal dan DR KH Abdullah Syukri Zarkasyi untuk berpamitan. KH Hasan A. Sahal menegaskan kembali dukungannya terhadap gagasan mendirikan pondok cabang di Sulit Air sambil memberi semangat agar mereka maju terus. Dalam perjualan pulang, mereka sempat mampir di PMDG 3 Putri di Mantingan, dan PMDG 2 Putri. Di Pondok 2 Putri, mereka disambut oleh adik KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Drs. H. A. Hidayatullah Zarkasyi selaku wakil pengasuh pondok. Mereka sempat berkeliling di komplek Pondok 1 dan 2 Putri. Pukul 17.00, mereka berangkat menuju Stasiun Solo Balapan untuk selanjutnya pulang ke Jakarta malam itu juga (M. ‘Azzam Manan & Agus Saputra)

Related Posts by Categories



Category: |
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

1 comments:

On October 16, 2009 at 7:13 AM , wahyu_fernando said...

teruskan berjuang unruk PMDG cabang Sumbar